Selasa, 28 September 2010
“masalah kecil atau kekuatan besar?”
Tidak semua dialog ringan malam itu menarik perhatian saya. Hanya satu yang terus terngiang di telinga dan akhirnya menggerakkan tangan saya untuk sedikit mengungkapkan hasil perenungan melalui tulisan sederhana ini…Satu pertanyaan yang diajukan Mario Teguh kepada beberapa bapak tukang becak di depan Pasar Beringharjo, “Bapak-bapak, kalau bapak-bapak sedang berdoa, biasanya apa yang bapak sampaikan pada Tuhan, apakah meminta Tuhan untuk memberikan masalah yang kecil atau memberikan kekuatan yang besar?” Lalu, salah satu dari mereka menjawab sambil tersenyum yakin, “Yaa..kekuatan besar tho, Pak…”
Saat itu juga saya tertegun. Pertanyaan yang sama coba saya tanyakan kepada diri saya sendiri, dan mungkin dapat menjadi pertanyaan refleksi bagi setiap kita, apakah ketika kita berdoa, kita meminta Tuhan untuk tidak memberikan masalah yang besar atau meminta Tuhan untuk memberikan kekuatan yang besar agar dapat menghadapi masalah sebesar apapun yang kita hadapi? Jujur, saya sendiri meragukan keikhlasan hati saya untuk tidak melibatkan keinginan manusiawi saya dalam doa yang saya kirimkan pada Tuhan…Saya mengingat dialog pribadi saya dengan Tuhan di taman doa Gereja Ganjuran lebih dari satu bulan yang lalu. Ketika saya mengalami pergumulan yang saya sama sekali tidak dapat menebak akhirnya. Saya bilang pada Tuhan, “Tuhan, aku bener-bener berserah, mampukan dan kuatkan puspa menghadapi apapun yang akan terjadi setelah ini..tapi kalo puspa boleh meminta, tolong …..” Saya menyebutnya, doa yang kontradiktif. Di satu sisi, saya menyatakan kepasrahan saya namun di sisi yang lain, saya masih saja meminta Tuhan untuk berkompromi dengan keinginan pribadi saya. Mengapa? Bibir saya berucap mohon kekuatan pada Tuhan dan saya katakan saya pasti kuat menghadapi apapun bersama Tuhan namun hati saya sebagai manusia lemah seringkali tidak yakin jika saya mampu dan saya kuat. Satu hal, ternyata sungguh-sungguh berserah itu tidak mudah.
Benar saja….Ketika saat ini saya harus menghadapi kondisi dan kenyataan yang tidak sama dengan harapan yang pernah saya selipkan dalam doa saya waktu itu, saya merasa seperti terlempar jauh ke dalam jurang yang memisahkan perasaan dan keinginan yang kemudian berlawanan dengan kondisi dan kenyataan. Inilah yang terjadi ketika saya masih mengharapkan Tuhan memberikan masalah kecil dan bukan kekuatan besar…
Mungkin saatnya saya belajar dari bapak tukang becak yang bisa menunjukkan ketulusan dan keikhlasan hatinya untuk benar-benar berserah kepada Tuhan dalam menjalani tidak menentunya hidup, dan tentunya belajar nrima ing pandum….
separated
Saatnya mencoba mengamini sekaligus mengimani bahwa much better of separated...Sesungguhnya perpisahan ini hanya menunggu waktu, seperti yang pernah dia katakan, “semua hubungan pasti ada akhirnya kan?” Tepat sekali. Dan akhirnya ini terjadi….
Jika saya boleh meraba-raba, mungkin ini adalah jawaban Tuhan atas doa khusus saya di taman doa Gereja Ganjuran, yang berada tidak terlalu jauh dari lokasi KKN saya waktu itu…Kalau tidak salah ingat, tiga kali saya mengunjungi gereja itu untuk mempergumulkan hal yang sama dan (maaf) setengah memaksa Tuhan untuk menjawab pertanyaan saya sesegera mungkin…Saya hanya meminta Tuhan menunjukkan pada saya, apa yang akan terjadi dan sangat mencoba meminimalisir untuk melibatkan keinginan pribadi saya di dalam doa-doa tersebut. Berserah. Mungkin itu kata yang tepat kalau saya tidak ingin menyebutnya pasrah…
Sesekali saya mengutuki keadaan yang membuat perpisahan ini terjadi namun selebihnya, saya iklhas…Saya tahu, saya dan juga dia, tidak selamanya bisa melawan keadaan dan kenyataan. Satu tahun sudah, mungkin kita masing-masing mencoba menutup mata dan mengikuti arus yang dulu ada dan menutupinya dengan berbagai alasan, namun benar, sekalu berbeda tetap saja berbeda….Ketika perbedaan itu kini menjadi jawaban atas ketidakjelasan yang kita jalani selama ini, saya hanya bisa diam. Tidak ada lagi asumsi dan tidak ada lagi kegelisahan, yang ada hanya kelegaan karena semua telah tersampaikan sekaligus kesedihan karena kita tidak akan mungkin merubahnya…
Saya seperti tiba di ujung perjalanan panjang yang tidak saya pungkiri, terkadang begitu melelahkan…Grafik keadaan yang berubah-ubah selama satu tahun belakangan ini menempa saya untuk menjadi kuat dan siap menghadapi apapun yang akan terjadi pada hubungan ini..Bagi saya, perpisahan ini seperti maut, yang kapan saja bisa menjemput. Namun, betapapun saya menyiapkan diri untuk kondisi terburuk, saya hanya manusia biasa yang tetap saja bersedih ketika perpisahan ini sungguh-sungguh menjemput saya….
Sedikitpun saya tidak menyesali apa yang terjadi selama ini, bagaimanapun, saya begitu banyak belajar melalui hubungan ini, belajar bersabar, belajar percaya, belajar ikhlas, belajar memahami dan mengerti…Tentunya, tidak sedikit hal yang akan saya ingat dan bisa saya kenang melalui hubungan tanpa status ini..hubungan yang bagi sebagian orang adalah hal yang aneh, bahkan bodoh….bagaimanapun juga, saya telah memilih jalan saya sendiri.
Makasih sedalam-dalamnya buat teman-teman dan sahabat yang selalu setia mendengarkan bahkan sudi memberikan saran yang berbeda dengan cara yang berbeda pula, makasih
Dan akhirnya…untuk (kamu), terimakasih ya pernah menorehkan warna lain dalam hidupku, seperti yang kamu pernah bilang, sama seperti kamu, aku pun ngga pernah menyangka, setelah sebelumnya di tahun 2008, kamu bercandaan nembak aku..tiba-tiba setahun kemudian di tahun 2009, kita bisa tiba-tiba deket beneran terimakasih banyak buat semuanya, ya…yang manis, yang asem sampe yang pahit sekalipun,hehe…aku juga mau minta maaf buat banyak kesalahan aku selama ini, mungkin kamu pernah merasa begitu terpojok, merasa selalu disalahkan karena kondisi kita, selalu dijudged, ataupun ketidaknyamanan yang pasti pernah kamu rasain, aku minta maaf…oya, ada satu pertanyaan kamu yang belum aku jawab..dan aku cuma mau bilang, aku ngga pernah benci kamu
Jumat, 28 Agustus 2009
Intro feat percakapan hati
Namun, bagaimana jadinya jika intro sebuah lagu terkumandang dari gonggongan anjing betina yang marah melihat sepasang kucing kawin, atau dari teriakan seorang bapak yang murka karena anaknya pulang terlalu malam?
Lalu, apakah setiap orang tahu, percakapan hati? maaf, jika saya kurang tepat menggunakan istilah ini untuk menggambarkan aksi tutup mulut yang dilakukan seorang gadis yang kesal melihat pacarnya menggoda perempuan lain atau yang dilakukan seekor burung beo yang sudah tiga hari tak diberi makan....hingga memaksa gadis dan burung beo itu berkontemplasi (perenungan yang sangat dalam.red-istilah dosen Filsafat Hukum saya) dalam hati (percakapan hati=berkontemplasi dalam hati?)
Ya, mari kita mencari makna di balik fakta (istilah dosen Sosiologi Hukum saya)....Makna apa yang tersembunyi di balik fakta bahwa awal dari sesuatu (sebuah lagu atau apapun) tidaklah harus dengan instrumen klasik yang terdengar biasa-biasa saja di telinga tetapi baiklah diisi dengan dentuman-dentuman meriam yang memekakkan telinga!
Tentu saja, maknanya adalah berani berbeda....Ketika orang berjalan ke utara, mengapa kita tidak berjalan ke selatan atau ketika orang asyik merebonding rambut, mengapa kita tidak bertahan dengan rambut keriting mengembang? Toh, perbedaan tidak selalu menyuguhkan bau negatif yang destruktif , bukan?
Namun, bukan berarti, saya tidak melegalkan perubahan. Perubahan yang (biasanya) berjalan beriringan dengan tuntutan dunia luar. Asal tidak melenyapkan identitas diri dan tidak bertentangan dengan suara hati,tentunya sah-sah saja.
Jika mencari makna di balik fakta tentang adanya percakapan hati yang bisa dikatakan kembar dengan pertentangan batin, mungkin tidak mudah. Percakapan hati muncul ketika seseorang benar-benar tahu apa yang dirasakannya dan diinginkannya. Dan itu menjadi begitu penting bagi saya.
Saya memang pribadi yang melankolis namun saya bisa menjadi begitu beringas ketika menyuarakan apa yang saya rasakan dan apa yang saya inginkan. Meskipun keberingasan tidak selalu terwujud dengan pemberontakan ataupun perlawanan. Dapat saja dengan nyanyian atau tulisan, yang sejatinya adalah percakapan hati itu sendiri.
Percakapan hati = hati yang bercakap-cakap. Hati yang berkompromi di sana-sini dan yang melakukan negosiasi tiada henti seperti seorang diplomat ulung yang berusaha memperjuangkan kepentingan negaranya tanpa menodai kepentingan negara lain. Yah, begitulah ketika hati bercakap. Walaupun kadang tidak menghasilkan keputusan yang menggembirakan namun setidaknya cukup melegakan dengan adanya win-win solution sebagai akhir sebuah pertentangan.
Jadi, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan Intro feat percakapan hati? Apakah ada korelasi antara keduanya? Apa?
Pertanyaan yang sangat mungkin memunculkan jawaban yang berbeda. Simple saja, sebelum membuat intro, mari lakukan percakapan hati. Sebelum mengawali sesuatu, mari bercakap-cakap dengan hati, seintim mungkin. Dan usahakan memperoleh buah yang benar-benar matang di dalam, tidak hanya terlihat matang di luar padahal rasanya sangat kecut.
Menyeimbangkan rasa dan logika memang debateable. Dan untuk kesekian kalinya, pengalaman membuat saya terhenyak....
hatihatipatahhati
Dirimu di hatiku tak lekang oleh waktu…Ah, sangat berlebihan lirik lagu ini.. Apalagi ini…Satu jam saja ku telah bisa, cintai kamu-kamu-kamu di hatiku namun bagiku melupakanmu butuh waktuku semumur hidupku…
Seolah waktu tak kuasa lagi memutar hari, sepertinya semua akan mandeg begitu saja hanya karena sebuah nama..Sia-sia!
Ya, realitas tak terbantahkan. Bahwa setiap orang pernah merasakannya dan bagi yang belum pernah, anda akan merasakannya! Bagaimana tulang-tulang terasa ngilu dan kepala ini begitu ngelu….Haaaah..
Nikmati saja karena sebahaya-bahayanya, bahayanya tidak akan membuat anda mati bunuh diri (tentunya jika logika anda memang masih jalan). Paling mentog, anda akan sering menatap dengan pandangan kosong dalam waktu-waktu tertentu, menangis atau malah marah-marah ketika mendengar sebuah lagu, tidak bisa tidur atau justru tidak bisa tidak tidur, tidak doyan makan atau justru sangat doyan makan, atau mungkin, tiba-tiba saja anda bisa berubah menjadi pujangga semusim….
Bagi pemula ataupun yang sudah berpengalaman, patah hati tentunya rasanya sama saja. Yang berbeda adalah seberapa jauh patah hati mengganggu stabilitas hati, pikiran bahkan pencernaan anda! Dan bagaimana anda menikmati dan menyikapinya….
Seperti saya, yang sore itu benar-benar menikmati bahayanya patah hati…Berjalan di tengah gerimis, sendiri, tanpa payung, menyusuri Jalan Monjali….setelah meraung-raung di pelukan seorang sahabat...Meskipun perjalanan itu tidak mengurangi penyakit yang ada di hati saya saat itu, paling tidak tenaga saya tidak terbuang sia-sia untuk menangis…
Itulah salah satu cara saya menikmatinya. Lalu bagaimana saya menyikapinya? Setelah sebelumnya saya lebih banyak menghardik dan mengutuk keadaan, untuk patah hati yang terakhir kemarin, saya lebih banyak menghela nafas panjang sambil memandangi wajah saya di kaca rias…mengatakan pada diri saya bahwa saya akan baik-baik saja (sungguh motivasi terbesar ada dalam hati kita!)
Untung saja, stabilitas hati, pikiran, otak dan pencernaan saya tidak terlalu terganggu dengan virus patah hati itu…Nyatanya, saya tetap bisa makan dengan enak, tidur dengan nyenyak, belajar dengan tenang, bermain dengan senang! Terimakasih Tuhan….
Jadi, saya dapat memastikan, lirik lagu patah hati tadi tidak akan terjadi dalam kehidupan anda. Sebahaya-bahayanya patah hati, pasti bisa disembuhkan (pun ketika patah hati anda sudah mencapai stadium lanjut)! Obatnya adalah persahabatan dengan waktu….
I’m not a GIRL not yet a WOMAN !
Tepat sekali. Saya bukan lagi seorang gadis namun saya juga belum dapat dikatakan sebagai seorang wanita dewasa yang sudah benar-benar siap menantang dunia.
Apa yang terjadi pada perempuan yang baru saja menginjak angka dua puluh tahun? Berada pada posisi psikologis yang labil, antara masih ingin sekedar bersenang-bersenang namun di sisi lain ada masa depan yang menuntut untuk mulai dipikirkan. Bukan begitu?
Saya tidak bermaksud mengeneralisasikan bahwa semua perempuan dua puluh tahun mengalami apa yang saya alami dan memikirkan apa yang saya pikirkan saat ini. Hanya saja, melihat teman-teman dan orang-orang di sekitar saya yang menyambut usia dua puluh tahun dengan sedikit ‘beban’, menggelitik hati saya untuk berbicara. Seolah harus ada yang berubah, berubah menjadi lebih mature dalam segala hal, cara berpikir, cara bersikap,
Saya teringat ketika saya membaca curhatan Dian Sastrowardoyo di blog pribadinya tentang ramainya ‘tuntutan’ orang terhadap dirinya dan kelelahannya mendengarkan itu semua. Lalu, tak pikir panjang, saya posted a comment, saya mengatakan kepada Dian bahwa kita memang harus bersyukur diberi dua telinga yang normal untuk mendengar. Namun, saya pastikan, telinga kita (termasuk telinga Dian) tidak sangat lebar untuk mendengar SEMUA kata orang. Maka, dengarlah apa yang memang baik untuk didengar dan abaikan yang lainnya.
Mungkin beberapa dari anda merasa komentar ini kurang bijak. Namun saya rasa ini solusi terbaik ketika kita sudah mulai depresi dengan ‘tuntutan’ ini itu, komentar ini itu dan apapun yang berasal dari luar. Bukan maksud saya mementahkan pendapat orang lain, permintaan orang lain, usulan orang lain dan apapun yang berasal dari orang lain tetapi sungguh kadang kita mesti menutup telinga untuk sementara jika tidak ingin ‘berhenti’ hanya karena berusaha MENJADI SEPERTI ‘tuntutan’ orang lain.
Lagi-lagi, bicara sikap hidup adalah bicara pilihan. Juga pilihan untuk terus bersyukur meskipun ada point-point yang belum terpenuhi dalam list resolusi awal tahun. Bersyukur dan apa adanya. Jika masih ingin kuliah dengan sepatu teplek tanpa ‘hak’, ya lakukan saja. Jika belum ingin menambahkan blush on di pipi, ya sah-sah saja. Jika lebih memilih meluangkan waktu bercengkerama bersama mama daripada bekerja magang, kenapa tidak? Dan jika di hari di mana saya dua puluh tahun dan saya ‘sendiri’, ada yang salah? Tentu saja tidak!
Tentang cinta. Selama dua puluh tahun ini, saya sudah banyak belajar tentang itu semua tanpa saya harus mempublikasikannya kepada khalayak ramai. Saya memiliki jalan dan cara sendiri yang tidak harus selalu sama dengan orang lain dalam mempelajari cinta. Manisnya pernah saya rengkuh, pahitnyapun demikian. Semuanya pembelajaran.
Sebagai anak perempuan dan satu-satunya, saya sadar, saya adalah satu-satunya harapan. Berharap saya bisa menyelarasakan antara harapan saya pribadi dan harapan orang tua. Baik tentang pilihan karier, pasangan hidup, atau apapaun objek-objek vital lain yang pastinya membutuhkan kompromi. Semoga saja selalu ada kompromi, tanpa saya harus mematikan diri saya sendiri tetapi juga tidak menghancurkan mimpi orang tua.
Saya dua puluh tahun, bukan
Maka, doakan saja saya selalu berada pada jalur yang semestinya. Meskipun jalur ini tidak akan bebas hambatan, doakan saya tidak berpaling. Saya bukan lagi seorang gadis remaja namun saya juga bukan wanita dewasa, sebut saya, gadis dewasa. Yang sedang mulai belajar tentang kehidupan tidak hanya dari satu buku saja tetapi dari berbagai buku yang sudah siap untuk saya baca.
