Selasa, 28 September 2010

“masalah kecil atau kekuatan besar?”

Belum lama ini saya menyaksikan tayangan Mario Teguh Golden Ways yang tayang di sebuah stasiun televisi swasta, yang pada edisi itu mengambil tema From Yogyakarta with Love….Kali itu, motivator ternama itu mengunjungi Yogyakarta untuk bertemu langsung dengan para tukang becak dan pedagang yang berjualan di sepanjang jalan Malioboro, bertemu dengan abdi dalem kraton yang juga seorang seniman, dan masih banyak warga Jogja yang lain. Terus terang saja, selama ini saya hampir tidak pernah menyaksikan program itu namun entah kenapa malam itu saya tergerak untuk meninggalkan sejenak tayangan favorit saya, Indonesia Mencari Bakat dan menyaksikan dialog Mario Teguh dengan warga Jogja….

Tidak semua dialog ringan malam itu menarik perhatian saya. Hanya satu yang terus terngiang di telinga dan akhirnya menggerakkan tangan saya untuk sedikit mengungkapkan hasil perenungan melalui tulisan sederhana ini…Satu pertanyaan yang diajukan Mario Teguh kepada beberapa bapak tukang becak di depan Pasar Beringharjo, “Bapak-bapak, kalau bapak-bapak sedang berdoa, biasanya apa yang bapak sampaikan pada Tuhan, apakah meminta Tuhan untuk memberikan masalah yang kecil atau memberikan kekuatan yang besar?” Lalu, salah satu dari mereka menjawab sambil tersenyum yakin, “Yaa..kekuatan besar tho, Pak…”

Saat itu juga saya tertegun. Pertanyaan yang sama coba saya tanyakan kepada diri saya sendiri, dan mungkin dapat menjadi pertanyaan refleksi bagi setiap kita, apakah ketika kita berdoa, kita meminta Tuhan untuk tidak memberikan masalah yang besar atau meminta Tuhan untuk memberikan kekuatan yang besar agar dapat menghadapi masalah sebesar apapun yang kita hadapi? Jujur, saya sendiri meragukan keikhlasan hati saya untuk tidak melibatkan keinginan manusiawi saya dalam doa yang saya kirimkan pada Tuhan…Saya mengingat dialog pribadi saya dengan Tuhan di taman doa Gereja Ganjuran lebih dari satu bulan yang lalu. Ketika saya mengalami pergumulan yang saya sama sekali tidak dapat menebak akhirnya. Saya bilang pada Tuhan, “Tuhan, aku bener-bener berserah, mampukan dan kuatkan puspa menghadapi apapun yang akan terjadi setelah ini..tapi kalo puspa boleh meminta, tolong …..” Saya menyebutnya, doa yang kontradiktif. Di satu sisi, saya menyatakan kepasrahan saya namun di sisi yang lain, saya masih saja meminta Tuhan untuk berkompromi dengan keinginan pribadi saya. Mengapa? Bibir saya berucap mohon kekuatan pada Tuhan dan saya katakan saya pasti kuat menghadapi apapun bersama Tuhan namun hati saya sebagai manusia lemah seringkali tidak yakin jika saya mampu dan saya kuat. Satu hal, ternyata sungguh-sungguh berserah itu tidak mudah.

Benar saja….Ketika saat ini saya harus menghadapi kondisi dan kenyataan yang tidak sama dengan harapan yang pernah saya selipkan dalam doa saya waktu itu, saya merasa seperti terlempar jauh ke dalam jurang yang memisahkan perasaan dan keinginan yang kemudian berlawanan dengan kondisi dan kenyataan. Inilah yang terjadi ketika saya masih mengharapkan Tuhan memberikan masalah kecil dan bukan kekuatan besar…

Mungkin saatnya saya belajar dari bapak tukang becak yang bisa menunjukkan ketulusan dan keikhlasan hatinya untuk benar-benar berserah kepada Tuhan dalam menjalani tidak menentunya hidup, dan tentunya belajar nrima ing pandum….

separated

“….Why don’t you go your way..and I’ll go mine..live your life, and I live mine…baby, you do well and I’ll be fine..cos much better of separated….” (separated-usher)

Saatnya mencoba mengamini sekaligus mengimani bahwa much better of separated...Sesungguhnya perpisahan ini hanya menunggu waktu, seperti yang pernah dia katakan, “semua hubungan pasti ada akhirnya kan?” Tepat sekali. Dan akhirnya ini terjadi….

Jika saya boleh meraba-raba, mungkin ini adalah jawaban Tuhan atas doa khusus saya di taman doa Gereja Ganjuran, yang berada tidak terlalu jauh dari lokasi KKN saya waktu itu…Kalau tidak salah ingat, tiga kali saya mengunjungi gereja itu untuk mempergumulkan hal yang sama dan (maaf) setengah memaksa Tuhan untuk menjawab pertanyaan saya sesegera mungkin…Saya hanya meminta Tuhan menunjukkan pada saya, apa yang akan terjadi dan sangat mencoba meminimalisir untuk melibatkan keinginan pribadi saya di dalam doa-doa tersebut. Berserah. Mungkin itu kata yang tepat kalau saya tidak ingin menyebutnya pasrah…

Sesekali saya mengutuki keadaan yang membuat perpisahan ini terjadi namun selebihnya, saya iklhas…Saya tahu, saya dan juga dia, tidak selamanya bisa melawan keadaan dan kenyataan. Satu tahun sudah, mungkin kita masing-masing mencoba menutup mata dan mengikuti arus yang dulu ada dan menutupinya dengan berbagai alasan, namun benar, sekalu berbeda tetap saja berbeda….Ketika perbedaan itu kini menjadi jawaban atas ketidakjelasan yang kita jalani selama ini, saya hanya bisa diam. Tidak ada lagi asumsi dan tidak ada lagi kegelisahan, yang ada hanya kelegaan karena semua telah tersampaikan sekaligus kesedihan karena kita tidak akan mungkin merubahnya…

Saya seperti tiba di ujung perjalanan panjang yang tidak saya pungkiri, terkadang begitu melelahkan…Grafik keadaan yang berubah-ubah selama satu tahun belakangan ini menempa saya untuk menjadi kuat dan siap menghadapi apapun yang akan terjadi pada hubungan ini..Bagi saya, perpisahan ini seperti maut, yang kapan saja bisa menjemput. Namun, betapapun saya menyiapkan diri untuk kondisi terburuk, saya hanya manusia biasa yang tetap saja bersedih ketika perpisahan ini sungguh-sungguh menjemput saya….

Sedikitpun saya tidak menyesali apa yang terjadi selama ini, bagaimanapun, saya begitu banyak belajar melalui hubungan ini, belajar bersabar, belajar percaya, belajar ikhlas, belajar memahami dan mengerti…Tentunya, tidak sedikit hal yang akan saya ingat dan bisa saya kenang melalui hubungan tanpa status ini..hubungan yang bagi sebagian orang adalah hal yang aneh, bahkan bodoh….bagaimanapun juga, saya telah memilih jalan saya sendiri.

Makasih sedalam-dalamnya buat teman-teman dan sahabat yang selalu setia mendengarkan bahkan sudi memberikan saran yang berbeda dengan cara yang berbeda pula, makasih 

Dan akhirnya…untuk (kamu), terimakasih ya pernah menorehkan warna lain dalam hidupku, seperti yang kamu pernah bilang, sama seperti kamu, aku pun ngga pernah menyangka, setelah sebelumnya di tahun 2008, kamu bercandaan nembak aku..tiba-tiba setahun kemudian di tahun 2009, kita bisa tiba-tiba deket beneran terimakasih banyak buat semuanya, ya…yang manis, yang asem sampe yang pahit sekalipun,hehe…aku juga mau minta maaf buat banyak kesalahan aku selama ini, mungkin kamu pernah merasa begitu terpojok, merasa selalu disalahkan karena kondisi kita, selalu dijudged, ataupun ketidaknyamanan yang pasti pernah kamu rasain, aku minta maaf…oya, ada satu pertanyaan kamu yang belum aku jawab..dan aku cuma mau bilang, aku ngga pernah benci kamu