Jumat, 28 Agustus 2009

Intro feat percakapan hati

Setiap orang tentu tahu, intro adalah melodi di awal lagu yang terlahir dari perkawinan berbagai alat musik atau bahkan tercipta dari petikan gitar saja atau dentingan piano saja....
Namun, bagaimana jadinya jika intro sebuah lagu terkumandang dari gonggongan anjing betina yang marah melihat sepasang kucing kawin, atau dari teriakan seorang bapak yang murka karena anaknya pulang terlalu malam?

Lalu, apakah setiap orang tahu, percakapan hati? maaf, jika saya kurang tepat menggunakan istilah ini untuk menggambarkan aksi tutup mulut yang dilakukan seorang gadis yang kesal melihat pacarnya menggoda perempuan lain atau yang dilakukan seekor burung beo yang sudah tiga hari tak diberi makan....hingga memaksa gadis dan burung beo itu berkontemplasi (perenungan yang sangat dalam.red-istilah dosen Filsafat Hukum saya) dalam hati (percakapan hati=berkontemplasi dalam hati?)

Ya, mari kita mencari makna di balik fakta (istilah dosen Sosiologi Hukum saya)....Makna apa yang tersembunyi di balik fakta bahwa awal dari sesuatu (sebuah lagu atau apapun) tidaklah harus dengan instrumen klasik yang terdengar biasa-biasa saja di telinga tetapi baiklah diisi dengan dentuman-dentuman meriam yang memekakkan telinga!
Tentu saja, maknanya adalah berani berbeda....Ketika orang berjalan ke utara, mengapa kita tidak berjalan ke selatan atau ketika orang asyik merebonding rambut, mengapa kita tidak bertahan dengan rambut keriting mengembang? Toh, perbedaan tidak selalu menyuguhkan bau negatif yang destruktif , bukan?

Namun, bukan berarti, saya tidak melegalkan perubahan. Perubahan yang (biasanya) berjalan beriringan dengan tuntutan dunia luar. Asal tidak melenyapkan identitas diri dan tidak bertentangan dengan suara hati,tentunya sah-sah saja.

Jika mencari makna di balik fakta tentang adanya percakapan hati yang bisa dikatakan kembar dengan pertentangan batin, mungkin tidak mudah. Percakapan hati muncul ketika seseorang benar-benar tahu apa yang dirasakannya dan diinginkannya. Dan itu menjadi begitu penting bagi saya.
Saya memang pribadi yang melankolis namun saya bisa menjadi begitu beringas ketika menyuarakan apa yang saya rasakan dan apa yang saya inginkan. Meskipun keberingasan tidak selalu terwujud dengan pemberontakan ataupun perlawanan. Dapat saja dengan nyanyian atau tulisan, yang sejatinya adalah percakapan hati itu sendiri.

Percakapan hati = hati yang bercakap-cakap. Hati yang berkompromi di sana-sini dan yang melakukan negosiasi tiada henti seperti seorang diplomat ulung yang berusaha memperjuangkan kepentingan negaranya tanpa menodai kepentingan negara lain. Yah, begitulah ketika hati bercakap. Walaupun kadang tidak menghasilkan keputusan yang menggembirakan namun setidaknya cukup melegakan dengan adanya win-win solution sebagai akhir sebuah pertentangan.

Jadi, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan Intro feat percakapan hati? Apakah ada korelasi antara keduanya? Apa?
Pertanyaan yang sangat mungkin memunculkan jawaban yang berbeda. Simple saja, sebelum membuat intro, mari lakukan percakapan hati. Sebelum mengawali sesuatu, mari bercakap-cakap dengan hati, seintim mungkin. Dan usahakan memperoleh buah yang benar-benar matang di dalam, tidak hanya terlihat matang di luar padahal rasanya sangat kecut.
Menyeimbangkan rasa dan logika memang debateable. Dan untuk kesekian kalinya, pengalaman membuat saya terhenyak....

hatihatipatahhati

Saya tidak sedang berbicara tentang hati hati yang patah hati, saya berbicara tentang bahaya laten patah hati….

Dirimu di hatiku tak lekang oleh waktu…Ah, sangat berlebihan lirik lagu ini.. Apalagi ini…Satu jam saja ku telah bisa, cintai kamu-kamu-kamu di hatiku namun bagiku melupakanmu butuh waktuku semumur hidupku…
Seolah waktu tak kuasa lagi memutar hari, sepertinya semua akan mandeg begitu saja hanya karena sebuah nama..Sia-sia!

Ya, realitas tak terbantahkan. Bahwa setiap orang pernah merasakannya dan bagi yang belum pernah, anda akan merasakannya! Bagaimana tulang-tulang terasa ngilu dan kepala ini begitu ngelu….Haaaah..

Nikmati saja karena sebahaya-bahayanya, bahayanya tidak akan membuat anda mati bunuh diri (tentunya jika logika anda memang masih jalan). Paling mentog, anda akan sering menatap dengan pandangan kosong dalam waktu-waktu tertentu, menangis atau malah marah-marah ketika mendengar sebuah lagu, tidak bisa tidur atau justru tidak bisa tidak tidur, tidak doyan makan atau justru sangat doyan makan, atau mungkin, tiba-tiba saja anda bisa berubah menjadi pujangga semusim….

Bagi pemula ataupun yang sudah berpengalaman, patah hati tentunya rasanya sama saja. Yang berbeda adalah seberapa jauh patah hati mengganggu stabilitas hati, pikiran bahkan pencernaan anda! Dan bagaimana anda menikmati dan menyikapinya….

Seperti saya, yang sore itu benar-benar menikmati bahayanya patah hati…Berjalan di tengah gerimis, sendiri, tanpa payung, menyusuri Jalan Monjali….setelah meraung-raung di pelukan seorang sahabat...Meskipun perjalanan itu tidak mengurangi penyakit yang ada di hati saya saat itu, paling tidak tenaga saya tidak terbuang sia-sia untuk menangis…

Itulah salah satu cara saya menikmatinya. Lalu bagaimana saya menyikapinya? Setelah sebelumnya saya lebih banyak menghardik dan mengutuk keadaan, untuk patah hati yang terakhir kemarin, saya lebih banyak menghela nafas panjang sambil memandangi wajah saya di kaca rias…mengatakan pada diri saya bahwa saya akan baik-baik saja (sungguh motivasi terbesar ada dalam hati kita!)

Untung saja, stabilitas hati, pikiran, otak dan pencernaan saya tidak terlalu terganggu dengan virus patah hati itu…Nyatanya, saya tetap bisa makan dengan enak, tidur dengan nyenyak, belajar dengan tenang, bermain dengan senang! Terimakasih Tuhan….

Jadi, saya dapat memastikan, lirik lagu patah hati tadi tidak akan terjadi dalam kehidupan anda. Sebahaya-bahayanya patah hati, pasti bisa disembuhkan (pun ketika patah hati anda sudah mencapai stadium lanjut)! Obatnya adalah persahabatan dengan waktu….

I’m not a GIRL not yet a WOMAN !

Tepat sekali. Saya bukan lagi seorang gadis namun saya juga belum dapat dikatakan sebagai seorang wanita dewasa yang sudah benar-benar siap menantang dunia.

Apa yang terjadi pada perempuan yang baru saja menginjak angka dua puluh tahun? Berada pada posisi psikologis yang labil, antara masih ingin sekedar bersenang-bersenang namun di sisi lain ada masa depan yang menuntut untuk mulai dipikirkan. Bukan begitu?

Saya tidak bermaksud mengeneralisasikan bahwa semua perempuan dua puluh tahun mengalami apa yang saya alami dan memikirkan apa yang saya pikirkan saat ini. Hanya saja, melihat teman-teman dan orang-orang di sekitar saya yang menyambut usia dua puluh tahun dengan sedikit ‘beban’, menggelitik hati saya untuk berbicara. Seolah harus ada yang berubah, berubah menjadi lebih mature dalam segala hal, cara berpikir, cara bersikap, gaya berbicara, hingga gaya berpakaian (mungkin)?Kembali lagi, itu semua pilihan hidup. Dan bagi saya, perubahan itu tidak absolut.

Saya teringat ketika saya membaca curhatan Dian Sastrowardoyo di blog pribadinya tentang ramainya ‘tuntutan’ orang terhadap dirinya dan kelelahannya mendengarkan itu semua. Lalu, tak pikir panjang, saya posted a comment, saya mengatakan kepada Dian bahwa kita memang harus bersyukur diberi dua telinga yang normal untuk mendengar. Namun, saya pastikan, telinga kita (termasuk telinga Dian) tidak sangat lebar untuk mendengar SEMUA kata orang. Maka, dengarlah apa yang memang baik untuk didengar dan abaikan yang lainnya.

Mungkin beberapa dari anda merasa komentar ini kurang bijak. Namun saya rasa ini solusi terbaik ketika kita sudah mulai depresi dengan ‘tuntutan’ ini itu, komentar ini itu dan apapun yang berasal dari luar. Bukan maksud saya mementahkan pendapat orang lain, permintaan orang lain, usulan orang lain dan apapun yang berasal dari orang lain tetapi sungguh kadang kita mesti menutup telinga untuk sementara jika tidak ingin ‘berhenti’ hanya karena berusaha MENJADI SEPERTI ‘tuntutan’ orang lain.

Lagi-lagi, bicara sikap hidup adalah bicara pilihan. Juga pilihan untuk terus bersyukur meskipun ada point-point yang belum terpenuhi dalam list resolusi awal tahun. Bersyukur dan apa adanya. Jika masih ingin kuliah dengan sepatu teplek tanpa ‘hak’, ya lakukan saja. Jika belum ingin menambahkan blush on di pipi, ya sah-sah saja. Jika lebih memilih meluangkan waktu bercengkerama bersama mama daripada bekerja magang, kenapa tidak? Dan jika di hari di mana saya dua puluh tahun dan saya ‘sendiri’, ada yang salah? Tentu saja tidak!

Tentang cinta. Selama dua puluh tahun ini, saya sudah banyak belajar tentang itu semua tanpa saya harus mempublikasikannya kepada khalayak ramai. Saya memiliki jalan dan cara sendiri yang tidak harus selalu sama dengan orang lain dalam mempelajari cinta. Manisnya pernah saya rengkuh, pahitnyapun demikian. Semuanya pembelajaran.

Sebagai anak perempuan dan satu-satunya, saya sadar, saya adalah satu-satunya harapan. Berharap saya bisa menyelarasakan antara harapan saya pribadi dan harapan orang tua. Baik tentang pilihan karier, pasangan hidup, atau apapaun objek-objek vital lain yang pastinya membutuhkan kompromi. Semoga saja selalu ada kompromi, tanpa saya harus mematikan diri saya sendiri tetapi juga tidak menghancurkan mimpi orang tua.

Saya dua puluh tahun, bukan lima belas tahun namun juga bukan dua puluh lima tahun. Tentunya saya ingin lebih matang dibanding ketika saya baru berusia lima belas tahun namun bukan berarti saya ingin membebani diri saya dengan problematika wanita dua puluh lima tahun. Mengutip pernyataan artis-artis ketika di wawancara, ‘mengalir aja, seperti air….’ Itu yang ingin saya lakukan.

Maka, doakan saja saya selalu berada pada jalur yang semestinya. Meskipun jalur ini tidak akan bebas hambatan, doakan saya tidak berpaling. Saya bukan lagi seorang gadis remaja namun saya juga bukan wanita dewasa, sebut saya, gadis dewasa. Yang sedang mulai belajar tentang kehidupan tidak hanya dari satu buku saja tetapi dari berbagai buku yang sudah siap untuk saya baca.