Tepat sekali. Saya bukan lagi seorang gadis namun saya juga belum dapat dikatakan sebagai seorang wanita dewasa yang sudah benar-benar siap menantang dunia.
Apa yang terjadi pada perempuan yang baru saja menginjak angka dua puluh tahun? Berada pada posisi psikologis yang labil, antara masih ingin sekedar bersenang-bersenang namun di sisi lain ada masa depan yang menuntut untuk mulai dipikirkan. Bukan begitu?
Saya tidak bermaksud mengeneralisasikan bahwa semua perempuan dua puluh tahun mengalami apa yang saya alami dan memikirkan apa yang saya pikirkan saat ini. Hanya saja, melihat teman-teman dan orang-orang di sekitar saya yang menyambut usia dua puluh tahun dengan sedikit ‘beban’, menggelitik hati saya untuk berbicara. Seolah harus ada yang berubah, berubah menjadi lebih mature dalam segala hal, cara berpikir, cara bersikap,
Saya teringat ketika saya membaca curhatan Dian Sastrowardoyo di blog pribadinya tentang ramainya ‘tuntutan’ orang terhadap dirinya dan kelelahannya mendengarkan itu semua. Lalu, tak pikir panjang, saya posted a comment, saya mengatakan kepada Dian bahwa kita memang harus bersyukur diberi dua telinga yang normal untuk mendengar. Namun, saya pastikan, telinga kita (termasuk telinga Dian) tidak sangat lebar untuk mendengar SEMUA kata orang. Maka, dengarlah apa yang memang baik untuk didengar dan abaikan yang lainnya.
Mungkin beberapa dari anda merasa komentar ini kurang bijak. Namun saya rasa ini solusi terbaik ketika kita sudah mulai depresi dengan ‘tuntutan’ ini itu, komentar ini itu dan apapun yang berasal dari luar. Bukan maksud saya mementahkan pendapat orang lain, permintaan orang lain, usulan orang lain dan apapun yang berasal dari orang lain tetapi sungguh kadang kita mesti menutup telinga untuk sementara jika tidak ingin ‘berhenti’ hanya karena berusaha MENJADI SEPERTI ‘tuntutan’ orang lain.
Lagi-lagi, bicara sikap hidup adalah bicara pilihan. Juga pilihan untuk terus bersyukur meskipun ada point-point yang belum terpenuhi dalam list resolusi awal tahun. Bersyukur dan apa adanya. Jika masih ingin kuliah dengan sepatu teplek tanpa ‘hak’, ya lakukan saja. Jika belum ingin menambahkan blush on di pipi, ya sah-sah saja. Jika lebih memilih meluangkan waktu bercengkerama bersama mama daripada bekerja magang, kenapa tidak? Dan jika di hari di mana saya dua puluh tahun dan saya ‘sendiri’, ada yang salah? Tentu saja tidak!
Tentang cinta. Selama dua puluh tahun ini, saya sudah banyak belajar tentang itu semua tanpa saya harus mempublikasikannya kepada khalayak ramai. Saya memiliki jalan dan cara sendiri yang tidak harus selalu sama dengan orang lain dalam mempelajari cinta. Manisnya pernah saya rengkuh, pahitnyapun demikian. Semuanya pembelajaran.
Sebagai anak perempuan dan satu-satunya, saya sadar, saya adalah satu-satunya harapan. Berharap saya bisa menyelarasakan antara harapan saya pribadi dan harapan orang tua. Baik tentang pilihan karier, pasangan hidup, atau apapaun objek-objek vital lain yang pastinya membutuhkan kompromi. Semoga saja selalu ada kompromi, tanpa saya harus mematikan diri saya sendiri tetapi juga tidak menghancurkan mimpi orang tua.
Saya dua puluh tahun, bukan
Maka, doakan saja saya selalu berada pada jalur yang semestinya. Meskipun jalur ini tidak akan bebas hambatan, doakan saya tidak berpaling. Saya bukan lagi seorang gadis remaja namun saya juga bukan wanita dewasa, sebut saya, gadis dewasa. Yang sedang mulai belajar tentang kehidupan tidak hanya dari satu buku saja tetapi dari berbagai buku yang sudah siap untuk saya baca.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar