Belum lama ini saya menyaksikan tayangan Mario Teguh Golden Ways yang tayang di sebuah stasiun televisi swasta, yang pada edisi itu mengambil tema From Yogyakarta with Love….Kali itu, motivator ternama itu mengunjungi Yogyakarta untuk bertemu langsung dengan para tukang becak dan pedagang yang berjualan di sepanjang jalan Malioboro, bertemu dengan abdi dalem kraton yang juga seorang seniman, dan masih banyak warga Jogja yang lain. Terus terang saja, selama ini saya hampir tidak pernah menyaksikan program itu namun entah kenapa malam itu saya tergerak untuk meninggalkan sejenak tayangan favorit saya, Indonesia Mencari Bakat dan menyaksikan dialog Mario Teguh dengan warga Jogja….
Tidak semua dialog ringan malam itu menarik perhatian saya. Hanya satu yang terus terngiang di telinga dan akhirnya menggerakkan tangan saya untuk sedikit mengungkapkan hasil perenungan melalui tulisan sederhana ini…Satu pertanyaan yang diajukan Mario Teguh kepada beberapa bapak tukang becak di depan Pasar Beringharjo, “Bapak-bapak, kalau bapak-bapak sedang berdoa, biasanya apa yang bapak sampaikan pada Tuhan, apakah meminta Tuhan untuk memberikan masalah yang kecil atau memberikan kekuatan yang besar?” Lalu, salah satu dari mereka menjawab sambil tersenyum yakin, “Yaa..kekuatan besar tho, Pak…”
Saat itu juga saya tertegun. Pertanyaan yang sama coba saya tanyakan kepada diri saya sendiri, dan mungkin dapat menjadi pertanyaan refleksi bagi setiap kita, apakah ketika kita berdoa, kita meminta Tuhan untuk tidak memberikan masalah yang besar atau meminta Tuhan untuk memberikan kekuatan yang besar agar dapat menghadapi masalah sebesar apapun yang kita hadapi? Jujur, saya sendiri meragukan keikhlasan hati saya untuk tidak melibatkan keinginan manusiawi saya dalam doa yang saya kirimkan pada Tuhan…Saya mengingat dialog pribadi saya dengan Tuhan di taman doa Gereja Ganjuran lebih dari satu bulan yang lalu. Ketika saya mengalami pergumulan yang saya sama sekali tidak dapat menebak akhirnya. Saya bilang pada Tuhan, “Tuhan, aku bener-bener berserah, mampukan dan kuatkan puspa menghadapi apapun yang akan terjadi setelah ini..tapi kalo puspa boleh meminta, tolong …..” Saya menyebutnya, doa yang kontradiktif. Di satu sisi, saya menyatakan kepasrahan saya namun di sisi yang lain, saya masih saja meminta Tuhan untuk berkompromi dengan keinginan pribadi saya. Mengapa? Bibir saya berucap mohon kekuatan pada Tuhan dan saya katakan saya pasti kuat menghadapi apapun bersama Tuhan namun hati saya sebagai manusia lemah seringkali tidak yakin jika saya mampu dan saya kuat. Satu hal, ternyata sungguh-sungguh berserah itu tidak mudah.
Benar saja….Ketika saat ini saya harus menghadapi kondisi dan kenyataan yang tidak sama dengan harapan yang pernah saya selipkan dalam doa saya waktu itu, saya merasa seperti terlempar jauh ke dalam jurang yang memisahkan perasaan dan keinginan yang kemudian berlawanan dengan kondisi dan kenyataan. Inilah yang terjadi ketika saya masih mengharapkan Tuhan memberikan masalah kecil dan bukan kekuatan besar…
Mungkin saatnya saya belajar dari bapak tukang becak yang bisa menunjukkan ketulusan dan keikhlasan hatinya untuk benar-benar berserah kepada Tuhan dalam menjalani tidak menentunya hidup, dan tentunya belajar nrima ing pandum….
Selasa, 28 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

refleksi yang luar biasa. seringkali kita memohon secara kontradiktif. seringkali kita memohon tapi juga memaksa. aku suka banget tulisan ini benar-benar jadi cermin. makasih banget ya puspa :)
BalasHapusmakasih juga uda baca tania:) ya, mari belajar menjadi pendoa yang baik...hehe
BalasHapus